Komunitas Rumah Hantu: "Anda Menjerit, Kami Puas"



Siapa orang yang tak takut hantu? Rasanya kalau mau jujur, kebanyakan orang pasti akan takut melihat penampakan hantu, apalagi yang wujudnya mengerikan. Hanya saja ada anomali di sini, sekalipun mereka umumnya takut hantu, namun banyak di antara  mereka ternyata menyukai hiburan yang berkaitan dengan hantu dan segala hal yang mengerikan. Lihat saja tayangan-tayangan film horor di bioskop yang tak pernah sepi peminat.

Begitu juga cerita-cerita mistis dan hal-hal yang berbau horor yang memiliki  penggemar yang tidak sedikit. Yang lebih seru lagi, kini bermunculan komunitas-komunitas yang berbau horor. Sebut saja, komunitas zombie, komunitas penyuka film horor, bahkan ada komunitas wisata mistis, dll. Komunitas-komunitas semacam ini ternyata tumbuh subur dan diminati kalangan muda.

Komunitas Rumah Hantu, misalnya, sejak berdiri tahun  2010 lalu, telah berhasil mengumpulkan 800an simpatisan. Misi mereka cukup menyeramkan, yakni, menebarkan jeritan ke seluruh penjuru Nusantara.  “Jeritan Anda Kepuasan Kami’, begitulah moto yang diusung Komunitas Rumah Hantu yang kerap disebut komunitas JAKK (Jeritan Anda Kepuasan Kami). Semakin  banyak yang menjerit, semakin banyak yang ketakutan, semakin lebarlah tertawa para awak Komunitas Rumah Hantu. Karena, itu menandakan mereka telah sukses menjalankan misinya, menebarkan keseraman dan jeritan.

Komunitas yang didirikan empat sekawan, Iskandar Muda (Ismud), Aruga Perbawa Rizqi, Boim, dan Zoya Rasyidi ini boleh dibilang terbentuk secara tidak sengaja. Awalnya adalah empat sekawan yang penyuka seni instalasi mendapat tawaran membuat obake yashiki atau rumah hantu ala Jepang untuk memeriahkan Japan Fair yang digelar sebuah universitas di wilayah Jakarta Timur, pada 2009 lalu.

Meski minim pengalaman, namun mereka yang memang doyan dunia horor, nekad menerima tawaran itu. Bagi mereka membuat rumah hantu ala Jepang merupakan sebuah tantangan menarik. Apalagi mereka juga adalah anggota klub budaya Jepang sehingga  tak asing dengan obake yashiki dan cerita-cerita seramnya. 

“Ya, kita nekad aja nyoba. Awalnya sempat bingung juga, karena bukan sekadar membuat obake yashiki tapi kita juga harus menyediakan hantu-hantunya. Siapa yang mau jadi hantu? Untung banyak teman yang mau bantu, akhirnya jadi juga rumah hantu plus obake-obake (hantu)  yang seram,” tutur Iskandar.

Ternyata respons yang diterima sungguh luar biasa. Pengunjung Japan Fair berbondong-bondong menjajal rumah hantu itu, “Meski make up hantu belum sebagus sekarang, namun dandanan hantu-hantu waktu itu cukup menyeramkan. Buktinya, para pengunjung menjerit-jerit ketakutan. Acara  perdana kami itu sukses,” imbuhnya.

Respons dan support yang mereka terima membuat empat sekawan ini berpikir untuk mendirikan komunitas. Apalagi, berkat promosi dari mulut ke mulut, mereka sudah mulai mendapat tawaran tampil di berbagai acara kampus dan sekolah. “Banyak yang tertarik gabung. Kami sering bikin acara diskusi berkaitan dengan hal-hal horor, nonton film horor bersama, berbagi cerita-cerita misteri, sharing soal make up, dll. Semuanya kami pelajari sendiri. Karakter-karakter hantunya pun kami pelajari, baik hantu lokal maupun luar. Jadi bisa dibilang untuk jadi seperti sekarang kami melakukannya secara otodidak, lewat trial and error,” tutur mahasiswa semester akhir di Universitas Negeri Jakarta ini.

Komunitas yang mempunyai dua markas, yakni di bilangan Ciputat dan Bekasi ini, menggelar pertemuan rutin dengan para anggotanya minimal sebulan sekali. Tetapi mereka akan makin sering bertemu jika ada kegiatan-kegiatan yang harus digarap. Namanya bergaul dengan hal-hal horor, sudah barang tentu mereka memiliki agenda rutin yakni mengunjungi tempat-tempat seram dan angker seperti  pekuburan Jeruk Purut, Jakarta Selatan, yang terkenal dengan cerita hantu pastur tanpa kepala, atau ke gedung-gedung tua di Kota Tua, Jakarta Barat, atau ke museum.

“Mencari inspirasi,” begitu kata Ismud. Kegiatan lainnya adalah membuat macam-macam pelatihan, termasuk pelatihan akting hantu. Dan yang tak kalah pentingnya adalah kegiatan berburu pakaian vintage untuk keperluan eksperimen karakter hantu atau untuk kepentingan acara. 

Banyaknya tawaran tampil membuat para pendiri komunitas berpikir untuk merambah ke bidang bisnis, baik itu bisnis event organizer rumah hantu, penyewaan kostum hantu ataupun properti lainnya. Kebetulan, para anggota, selain keempat pendiri yang memang telah memiliki latar belakang pendidikan desain dan psikologi,  juga memiliki kemampuan beragam seperti cosplay, make up, dll.  

“Kami sering mendapat permintaan membuatkan rumah hantu, mendekorasi, menyediakan properti dan tokoh hantu, dll. Lalu kami berpikir, kenapa tidak mencoba bisnis di bidang ini. Rasanya pas, karena dari kami berempat, tiga di antaranya mendalami ilmu desain, dan satunya lagi, ilmu psikologi. Belum lagi teman-teman lain yang juga memiliki kemampuan cosplay, make up, dll,” ujar Ismud sembari menambahkan, yang terlibat aktif dalam berbagai event yang digelar JAKK sekitar 30-40 anggota.

Meski telah merambah ke bisnis, namun Ismud tetap menyebut komunitasnya bersifat nonkomersil. Pasalnya, keuntungan dari proyek-proyek yang mereka terima, kebanyakan digunakan untuk kegiatan komunitas. Misalnya untuk biaya riset, berbagai pelatihan, pembuatan cosplay, properti dan program lainnya. Dengan begitu, pengeluaran yang digunakan untuk acara-acara komunitas tidak lagi dari kocek para pengurus karena komunitas sudah bisa membiayai diri sendiri.

Ismud mengaku senang karena komunitas yang didirikan bersama tiga rekannya, telah eksis di tengah masyarakat. Hal itu terbukti dari banyaknya undangan kegiatan-kegiatan meminta partisipasi. Di antaranya, Urban Fest di Pasar Seni Ancol, JakCloth di Parkir Timur Senayan, atau Ghost Parade Jakarta Community Carnival, Jakarta Game Festival, Japan Fair Universitas Darma Persada  dll. “Bulan depan kami akan tampil lagi di Japan Fair dan acara provider Tri,” ucap Ismud.

YANG LUCU DAN KONYOL DI RUMAH HANTU

Banyak kejadian lucu dan konyol yang dialami para anggota Komunitas Rumah Hantu saat menggelar event, dari mulai pengunjung yang pingsan hingga rumah hantu jebol diterjang pengunjung yang histeris.Yang namanya pingsan karena kaget atau ketakutan, tutur Ismud, bukan hal yang aneh lagi.

Suatu ketika, ujarnya, ada pengunjung wanita yang pingsan dan dengan reflek ditolong para hantu jadi-jadian. Begitu si wanita siuman, dia kaget melihat di sekelilingnya ada hantu jadi-jadian yang belum sempat menghapus make up saat menolongnya. Saking kaget, wanita itu pun pingsan lagi. Gara-gara kejadian itu, manajemen komunitas pun membuat peraturan, kru yang masih memakai dandanan hantu dilarang menolong pengunjung. 

Kisah konyol lainnya adalah saat rumah hantu jebol gara-gara pengunjung ketakutan. Dalam sebuah event, tutur Ismud, rombongan anak metal mencoba kengerian yang ditawarkan komunitas JAKK. “Yang namanya anak metal, kan, tahu sendiri gayanya kayak apa. Saat masuk mereka terkesan gagah berani, seakantidak kenal takut. Tetapi begitu di dalam, suara jeritannya kenceng banget, entah karena kaget atau ngeri. Kemudian, mereka lari tunggang langgang dan menabrak apa saja yang ada di depannya. Sampai-sampai rumah hantu kami jebol. Sejak kejadian itu kami membuat peraturan, untuk masuk ke rumah hantu tidak boleh banyak-banyak,” tutur Ismud sambil tertawa ngakak.  

Lain lagi cerita tentang cowok yang lari terbirit-birit karena ketakutan, meninggalkan pacarnya yang masih di rumah hantu. “Cerita ini emang lucu. Waktu masuk, justru si cewek yang kelihatan ketakutan. Sedangkan cowoknya seperti ‘jaim’. Tetapi begitu di dalam, justru cowoknya yang paling ketakutan, dan lari keluar meninggalkan ceweknya,” kisah Ismud. Tetapi ada satu peristiwa yang tak dilupakan Ismud yang jika mengingatnya hanya bisa tersenyum kecut.  Pasalnya, dia ditendang seorang perempuan yang kaget melihat dirinya yang berdandan hantu merangkak dalam sebuah acara. –Diana Runtu/Inten Indrawati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar