Horor Bukan Mistik

Komunitas yang menggemari horor tapi bukan mistik. Tanpa ritual membakar dupa dan menyebar-nyebar air mawar.


Komunitas Jeritan Anda Kepuasan Kami (JAKK) di Ciputat, Tangerang, Banten, Jumat lalu. (TEMPO/WISNU AGUNG PRASETYO)

Pada malam Jumat lalu, Hell Butcher alias tukang jagal dari neraka berdiri mengayun-ayunkan kapak berdarah sambil memegang potongan kepala. Namun, pada malam yang dianggap oleh sebagian orang seram itu, Butcher tak berniat mencari mangsa. Dia malah duduk anteng di samping Jaldaboath, dewa-nya para setan. Di dekat keduanya, hadir pula Nopperabo—hantu perempuan tanpa muka dari Negeri Sakura. 

Suasana horor itu tergelar di sebuah rumah di Kompleks Graha Satwika Telkom, Ciputat, Tangerang Selatan. “Ini benang merahnya, Jaldaboath berusaha mencari anak buah, yakni Hell Butcher, untuk mencari korban, Nopperabo, yang mukanya sudah diiris rata,” ujar Aruga Perbawa, juru bicara Jeritan Anda Kepuasan Kami (JAKK) Inc, ihwal adegan tiga tokoh horor tersebut. 

Rumah tempat tokoh horor itu beraksi adalah markas JAKK, sebuah komunitas penggemar horor. Tiga anggota komunitas tersebut tengah memerankan tokoh-tokoh horor yang cukup terkenal. “Tapi kami bukan penggemar horor yang berbau mistik, ya,” kata Aruga. 

Komunitas JAKK berdiri sejak 29 Januari 2010. Para pendirinya adalah Aruga, Iskandar Muda, Boim, dan Zoya. Awalnya, keempat pria penggemar hyakumonogatari kaidankai (persamuhan untuk berbagi 100 cerita hantu) itu mendapat tawaran membikin rumah hantu dalam acara sebuah kampus di Jakarta. Order pertama tersebut mendapat respons positif, banyak anggota baru, tambahan tawaran buat rumah hantu, dan nama mereka semakin dikenal. 

“Rumah hantu ini adalah aplikasi kegiatan komunitas,” ujar Aruga. “Belajar di komunitas, prakteknya di rumah hantu.” 

Jika belum ada tawaran masuk rumah hantu, para anggota komunitas berkumpul untuk nonton bareng film-film horor, belajar make-up (karakter dan efek khusus), membuat kostum, menciptakan properti, serta melatih karakter tokoh-tokoh bertampang mengerikan tersebut. Mereka berusaha menjadi tokoh horor dengan kaffah, artinya tidak menjual kekagetan pengunjung dengan jeritan atau teriakan. 

Sebab, menurut Aruga, membuat takut orang itu jauh lebih mengena kalau tersentuh sisi psikologisnya, seperti penampilan fisik atau perilaku karakter horor tersebut. “Kami tambahkan unsur teatrikal, kami benar-benar role (peran) play, tidak sekadar cos (kostum) play,” katanya. 

Tidak semua tokoh menyeramkan selalu berteriak. Ada yang pekerjaannya menangis atau hanya menyeringai dengan senyum bengis. Mereka juga menjamin tak ada ritual mistik sebelum acara. “Ya, kadang ada bakar menyan, sambil sebar-sebar air mawar,” ujar Aruga. Tapi hal itu dilakukan hanya untuk membuat atmosfer semakin mencekam. 


Saat ini, ada 30 anggota aktif komunitas, dengan 500 simpatisan yang bergabung dalam fanpage Facebook di JAKK.Inc (Komunitas Rumah Hantu). “Sudah sampai Surabaya juga, tapi untuk kegiatan di luar daerah terserah mereka,” ujar Aruga. 

Secara garis besar, Aruga menambahkan, konsep kegiatannya sama: mencintai horor. "Horor itu intinya adalah ketika merasa insecure, tidak nyaman dan ketakutan. Jadi luas, tidak sebatas hantu dan makhluk-makhluk lainnya,” katanya.

Meski begitu, tidak semua yang bergabung dengan komunitas tersebut adalah penyuka horor. Ada anggota perempuan yang ikut komunitas karena memiliki ketakutan terhadap make-up tebal. “Dia awalnya menangis melihat hasil riasan make-up-nya,” ujar Aruga. "Tapi ternyata setelah berulang kali dirias,gadis tersebut berhasil mengatasi ketakutannya.” DIANING SARI

Sumber: http://koran.tempo.co/konten/2013/03/24/304770/Horor-Bukan-Mistik yang dimuat dalam Koran Tempo edisi Minggu, 24 Maret 2012, Halaman A14

Tidak ada komentar:

Posting Komentar