Para Mahasiswa yang Bangun Usaha Rumah dan Pesta Hantu

Rela Jadi Sasaran Pukulan Pengunjung yang Ketakutan
Jika hari ini (31/10) Anda hendak menghadiri pesta Halloween, alternatif hantu yang ditawarkan anak-anak kuliahan berikut ini boleh dicoba. Di usia yang masih belia, mereka menawarkan jasa mendirikan rumah hantu dan pesta hantu. Seperti apa?

HANTU JADI-JADIAN: (dari kiri) Alvian, Boim dan Aruga, tiga pemuda yang menjalankan bisnis rumah hantu ala Jepang. (foto kanan) Hantu karya JAKK Inc.


AGUNG PUTU ISKANDAR, Jakarta
NAMA perusahaannya JAKK Incorporated (JAKK Inc). Nama JAKK punya kepanjangan. Yakni, Jeritan Anda Kepuasan Kami. Perusahaan itu memang bergerak di jasa ”membuat klien menjerit ketakutan”. Jika klien tidak sampai menjerit takut, artinya mereka gagal.

Mereka melayani pembuatan rumah hantu di sekolah, kampus, dan mal. Momennya bisa saat perayaan Halloween, festival kebudayaan, atau akhir tahun sekolah. ”Bergantung permintaan. Mau all-in rumah hantu sekaligus hantunya, hanya tim perancang, atau hantu dari pihak pengorder,” kata Aruga Perbawa, salah seorang pendiri JAKK Inc, saat ditemui di salah satu markas JAKK di Ciputat, Tangerang Selatan, kemarin (30/10).

Jika diorder all-in, mereka harus menyiapkan semuanya. Mulai instalasi obake yashiki (bahasa Jepang ru mah hantu), kostum hantu, orang-orang yang berperan sebagai hantu, serta pernak-pernik lain, seperti lightning dan perlengkapan audio. ”Itu kostumnya, barusan dicuci,” kata Aruga, lantas me nunjuk jemuran di loteng rumah.

Kostum-kostum tersebut, antara lain, berupa pakaian dokter, rok lebar dan besar, serta satu kemeja. Semua pakaian berwarna putih dengan semburat warna merah darah di beberapa bagian hitam legam yang dilengkapi dengan sulur-sulur panjang. ”Ini masih beberapa. Di markas lain, ada properti untuk kostum pocong dan kuntilanak,” imbuh mahasiswa semester VII Jurusan Desain Multimedia Sekolah Tinggi Desain Interstudi, Jakarta, tersebut. 

Untuk instalasi rumah hantu, mereka biasanya menyesuaikan diridengankemampuanpeng order. Jika yang mengorder sekolah atau kampus, biasanya JAKK akan memanfaatkan properti bangunan yang ada. Misalnya, saat mendirikan rumah hantu di SMAN 71 Jakarta, mereka memanfaatkan lorong- lorong yang dipadu dengan ruang kelas yang dikosongkan.

Biar lebih dramatis, beberapa ruang dibuatkan sejumlah partisi dengan kardus atau tripleks. Mereka kemudian memasang beberapa properti seperti ceceran darah, memutar suara-suara aneh, meletakkan foto-foto keluarga dengan kaca pigura retak, dan mengatur efek pencahayaan. Yang tidak boleh absen, mereka membakar kemenyan serta menebar kembang tujuh rupa dan air mawar.

Hal serupa mereka lakukan saat membuat rumah hantu di Universitas Darma Persada, Jakarta. Beberapa tempat mereka manfaatkan untuk membuat jalurjalur hantu seperti labirin. Di beberapa bilik labirin itulah, mereka menempatkan hantuhantu yang diperankan oleh para kru. Nah, tugas para kru adalah menakut-nakuti para pengunjung yang masuk ke rumah hantu. ”Pengunjung sering nggak mengira hantunya muncul di mana. Kadang di atas, kadang di bawah. Di lorong yang tidak ada hantunya, tiba-tiba muncul dari tempat gelap,” tutur Aruga.

Untuk menimbulkan rasa horor, pengunjung dibatasi maksimal dua orang. Mereka akan melewati pintu masuk, labirin, hingga dengan selamat sampai di pintu keluar. Aruga mengatakan, yang susah sejatinya adalah memerankan hantu. Sebab, mereka harus siap menghadapi reaksi spontan pengunjung. ”Pengunjung, biasanya, begitu didatangi hantu langsung refleks mukul. Yang cewek biasanya menampar atau mencakar. Itu masih untung. Ada juga yang langsung lari, menabrak partisi, dan menginjak  lampu-lampu efek. Beberapa orang sampai kencing di celana,” ucap Aruga, lantas terbahak.

Yang mengerikan, tak jarang rumah hantu yang mereka bikin justru didatangi hantu betulan. Itu diketahui saat mereka mengumpulkan testimoni pengunjung yang ditulis di kertas. Beberapa pengunjung mengaku paling ngeri saat melihat pocong di satu sudut labirin. ”Padahal, hari itu kami nggak bikin pocong. Soalnya, yang jadi pocong nggak bisa. Terus, yang di situ pocong siapa?” kata Dimas Apriadi, pentolan JAKK yang lain.

Lelaki yang akrab dipanggil Boim itu menuturkan, dugaan tentang adanya hantu asli menguat karena beberapa pengunjung mengatakan hal sama soal pocong. Selain pocong, ada pengunjung yang mengaku melihat kuntilanak merah mengerikan berdiri di satu lorong. Padahal, hari itu sang kuntilanak jadi-jadian absen.  ”Akhirnya, kami cuma bisa bersyukur ’dibantu’. Sudah untung nggak digangguin, Cuma menampakkan diri. Lagian, lebih enak begitu, nggak usah pakai outsourcing,” timpal Aruga, lantas tersenyum.

JAKK sejatinya melayani permintaan pembuatan rumah hantu dengan tema apa pun. Mau hantu lokal bisa, impor pun gampang. Namun, sebagian besar order yang mereka terima adalah hantu-hantu Jepang. Karena itu, beberapa hantu yang digandrungi para klien adalah shibito (mayat hidup), hitotsume kozo (hantu mata satu), ao andon (hantu yang selalu membawa lentera biru), dan sadako (kuntilanaknya Jepang). Tetapi, hantu Jepang yang most wanted tetap kuchisakeonna. Kuchisake adalah hantu gadis cantik bermulut robek. Konon, dikisahkan dia selalu menutup mulut dengan kipas, syal, atau masker. Dia muncul di jalanan sepi dan bertanya kepada orang yang lewat apakah dirinya cantik. ”Kalau orang yang ditanya tidak menjawab atau takut, dia akan membunuhnya,” terang Aruga, lantas terkekeh.

Namun, dari semua hantu impor, hantu-hantu lokal tetap paling efektif untuk menakut-nakuti pengunjung. Terutama, dua nama hantu kondang. Yakni, pocong dan kuntilanak. ”Meskipun rumah hantu bertema Jepang, sering tetap ada request khusus untuk bikin pocong dan kuntilanak,” kata Alvian Septiadi,  pengurus lain JAKK.

Dalam setiap order rumah hantu, JAKK minimal menyiapkan sepuluh hingga belasan orang untuk memerankan hantu. Tetapi, jika pengorder ingin tenaga hantu dari kalangan sendiri, JAKK akan melatih dan membrifing para calon hantu. ”Jangan sampai mereka sembarangan menjadi hantu. Bukan menakut-nakuti, tapi malah bercanda. Hasilnya jadi nggak bagus,” ungkap Boim.

Para hantu tersebut pun punya pantangan. Mereka boleh menakut-nakuti sepuasnya tanpa kontak fisik. Kadang-kadang mereka juga harus mengalah jika pengunjung terlalu ngeri sehingga para hantu itu menjadi sasaran pukulan. ”Mereka juga harus total. Harus ditahan-tahan kalau kostum panas atau make-up bikin gatal di kulit wajah,” terang dia. 

Kadang para hantu tersebut juga takut sendiri. Misalnya, ada hantu pocong yang bertugas di satu titik sendirian. Biasanya, dia meminta petugas pengatur suara bisa diajak ngobrol selama menunggu pengunjung.

JAKK awalnya adalah komunitas penggemar budaya Jepang di SMAN 71 Jakarta. Pada 2007 mereka mendirikan komunitas bernama Menjamah, kependekan dari Menjerit Berjamaah. Waktu itu anggotanya hanya empat orang.  Mereka mengadakan sejumlah kegiatan, seperti nonton film horor bersama serta night trip ke tempat-tempat sepi dan terkenal angker di Jakarta hingga Bekasi.  ”Kami juga takut. Tapi, kami merasa fun. Maka, kami nggak pernah bilang bahwa itu kerjaan. Itu kesenangan. Pada nama JAKK, ada embel-embel  Inc. Kan biar kelihatan serius aja,” ucap Aruga. (*/c11/iro)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar